Tahun 2008 AHM merilis Honda Blade generasi awal yang masih bermesin NF110, sama persis dengan Honda Revo namun beda peruntukan.

Mesin generasi baru ini akselerasinya lebih spontan dan ringan karena ada bearing pada templarnya untuk mengurangi gaya gesek dan lebih efisien.

Pada seri ini pula AHM mulai serius riset bebek 110cc ini untuk terjun di kelas bebek 4tak pada Kejurnas Motoprix.

Tahun 2011 mulai ada major facelift pada body keseluruhan, tambah cakep dan sporty. Kemudian tahun 2013 muncul lagi facelift dengan mesin 125cc injeksi.

Hasil riset mekanik-mekanik ternama membuat pacuan Honda Blade ini mampu membuat keder Jupiter dikancah balap nasional maupun kejurda. Sebut saja tim-tim kondang yang pakai Blade pada saat itu seperti AHRS, Fasttech Jogja, Astra Motor Racing Team, Mekanik Heru Kate hingga Alm Benny Jati.

Guna memperdalam riset dan pengembangan, AHM pun membuat OMR Honda yaitu Honda Dream Cup (HDC) dan sekarang HDC jadi OMR yang disegani di Indonesia.

Seiring industri manufaktur dan penjualan berjalan motor bebek 125cc pun makin kurang pamor dan penjualannya, termasuk juga penjualan Honda Blade. Nah bebek hyperunderbone malah tumbuh meski tidak pesat seperti Supra GTR150 dan MX King 150.

Kedua jenis motor tersebut juga turun di kelas balap Bebek 4T 150cc MP1, MP3 dan MP5.

Entah kabar baik ato kabar buruk, untuk kejurnas Motoprix 2019 sudah tidak ada kelas bebek 4T 125cc lagi. Artinya Bebek 4T sd 125cc seperti Jupiter, dan Blade gak bakal tampil di kelas utama Motoprix lagi. Bebek 4T 125cc tampil sebagai supporting class di Motoprix.

Gak tahu ya jika AHM kedepan bakal mengeluarkan Blade 150cc, tapi rasanya kok gak mungkin nanti posisi Supra GTR150 gimana?

Well … nama Honda Blade sudah cukup bagus diarena balap sebagai bebek sport yang bisa kenceng disirkuit apakah bakal sirna begitu saja ???