Sabtu, 13 April 2019, sebanyak 29 rider Crf Rally Indonesia bergerak bersama menuju Cipta Gelar. Para raider beriringan mengekor melintasi Leuwiliang, Bogor, lalu masuk jalur Cianten. Setelah melintasi perkebunan teh Cianten, para rider terus bergerak melewati jalan berliku Cikidang untuk sampai di tikum selanjutnya, Pelabuhan Ratu. Di pelabuhan Ratu, peserta menikmati sajian makan siang ala seafood dengan menu andalan lobster rebus. Suasana seru dan ceria menghiasi acara makan siang. Kebersamaan yang selama ini dibangun melalui berbagai acara turing camping ala Crf Rally, berhasil menghilangkan rasa canggung diantara peserta. Tampak saat berbincang dan bercanda, mereka tertawa lepas seperti layaknya kawan seperjalanan.

Tajul Arifin sebagai presiden Crf Rally Indonesia mengatakan “kegiatan ini dilakukan untuk menambah kekakraban diantara para pemilik Crf Rally sembari menyambut datangnya bulan baik, bulan Ramadan.”

Salah seorang pengurus Crf Rally yang biasa dipanggil Pak Guru Yos menambahkan, “kami ingin kebersamaan ini dibangun sambil mengali kearifan lokal budaya di Cipta Gelar. Harapannya, semoga melalui kegiatan ini, peserta semakin mencintai budaya dan alam Indonesia yang indah, khususnya di Jawa Barat.”

Lepas makan siang, rintik hujan mulai membasahi bumi Pelabuhan Ratu. Para peserta melanjutkan perjalanan menuju Kampung Adat Cipta Rasa. Namun, Ketika masuk Cikakak, hujan deras seperti tumpah dari langit, dan jalur gravel yang dilalui peserta mulai terasa menantang. Memasuk Kampung Adat Cipta Rasa, peserta berhenti sejenak untuk beristirahat. Di Cipta Rasa, hujan mulai sedikit reda, tetapi itu membuat jalur Cipta Rasa menuju Cipta Gelar bukan semakin mudah, justru semakin menantang, karena tanah merah yang terbawa air hujan menutupi jalur gravel. Tekanan ban dikurangi demi menambah grip ban di jalur gravel yang akan dilalui. Beberapa rider crf rally yang terbiasa main offroad, justru menikmati tantangan melintasi jalur gravel Cipta Rasa seperti ini. Namun, bagi peserta yang belum terbiasa dengan dunia offroad, harus berjuang membangun keyakinan diri saat melintasi jalan berbatu lepas yang licin tersebut, terutama di jalan menanjak yang dihiasi batu-batu basah berlumut.
Para rider saling membantu dan memotivasi, membangun rasa percaya diri. Dalam keadaan sulit seperti ini, justru kebersamaan dan rasa saling percaya tercipta.
sehingga jalur Cipta Rasa dalam keadaan licin itu dapat dilintasi tanpa perlu waktu lama. Pada sore hari, PK. 17.30, akhirnya seluruh peserta tiba di Cipta Gelar secara bersamaan.
Malam hari, peserta makan malam bersama di Imah Gede (rumah besar) sambil bercerita tentang serunya jalur Cipta Rasa saat hujan, seperti yang baru saja mereka lintasi.
Usai makan malam, peserta “ngariung” duduk bersila melingkar ngopi di teras menikmati udara sejuk Cipta Gelar sambil mendengarkan cerita-cerita kearifan lokal khas Cipta Gelar yang dituturkan oleh Kang Yoyo, penduduk asli Kampung Adat Cipta Gelar.
Malam semakin larut, peserta tidur menggunakan sleeping bag yang mereka bawa demi melawan dinginnya udara gunung Halimun.

Hari ke 2

Pagi indah di Cipta Gelar. Penduduk desa mulai bergegas ke sawah dan ladang, bekerja bersama sama merawat padi dan kebunnya. Peserta bangun, lalu berjalan kaki menuju sawah, menikmati pemandangan indah alam Cipta Gelar. Alam Desa Adat Cipta Gelar di bumi tatar Sunda begitu indah, tak heran jika peserta dapat merasakan betapa ” Tuhan sedang tersenyum ketika membentuk bumi Jawa Barat, khususnya di wilayah Gunung Halimun. Peserta tidak melewatkan momen ini, mereka berfoto ria bersama, mencoba mengabadikan momen indah itu.

Abah Ugi, sebagai ketua adat Desa Adat Cipta Gelar berkenan berbincang dan berfoto bersama. Dalam kesempatan baik itu, para peserta mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada Abah Ugi karena sudah diperkenankan menikmati indahnya alam Cipta Gelar dan mengenal kearifan lokal yang ada di Cipta Gelar.

Usai berfoto ria, peserta sarapan bersama lalu berkemas pulang melalu jalur Sinar Resmi.