Kesialan sepertinya mengikuti pembalap Repsol Honda, Jorge Lorenzo sejak seri perdana Qatar. Begitu juga pada seri Assen, Aregentina.

Tak menemukan setup terbaik sepanjang pekan, Lorenzo hanya bisa berbuat banyak dengan hanya bertarung diluar 10 besar. Hal ini diperparah dengan kejadian-kejadian ‘aneh saat balapan, mulai dari kesalahan start karena Pit Limiter menyala, handgrip terlepas, dan menjadi korban manuver agresif Karel Abraham.

“Ini tidak dapat dipercaya. Saya ingat ketika saya menekan tombol prosedur start, tiba-tiba RPM turun dan saya tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya tombol pit start menyala dan motor tidak melaju. Semuanya menyusul saya dan saya di posisi terakhir lagi seperti di Qatar.”

“Ketika saya memulai membalikan keadaan, saya merasa kehilangan karet (handgrip) pada stang kiri saya. (Ada klip besi yang menopang grip dan klip tersebut merobek karet handgrip Lorenzo – karena Lorenzo meminta handgrip yang lebih soft) Tidak ada grip sama sekali. Semuanya buruk. Situasi yang sangat sulit untuk membalikan keadaan.

“Juga grip (ban) sangatlah buruk setelah balapan Moto2 dengan kondisi yang sangat panas. Ini seperti mimpi buruk. Akhirnya saya beruntung karena Vinales dan Morbidelli terjatuh, jadi dapat beberapa poin,” terang Lorenzo.

Jorge Lorenzo menjelaskan insiden pertarungannya dengan pembalap Reale Avintia, Karel Abraham.

“Dia menyusul saya seperti bertarung untuk kemenangan pada lap akhir. Sangat agresif dan saya hampir jatuh. Saya selamat, tapi tak ada artinya. Saya pergi ke Race Direction untuk berbicara dengan mereka. Saya pikir pergerakan itu diluar akal sehat.”

Sing sabar yo paduka .. masih banyak seri tersisa ­čśü